CERBUNG - AKU TAK PERNAH DILAHIRKAN (PART I)


Jum’at, 8 Jumadil awwal 1436 H / 27 Februari 2015 M
Penulis: Yusra Afri Aini

Ilustrasi Raysa menangis


Aku Tak Pernah Dilahirkan
CERBUNG - PART I


            Dilahirkan tanpa kasih sayang itu amat tidak menyenangkan. Jika aku tau begini jadinya, aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini.

Raysa...itulah panggilan ku, dan aku mempunyai kakak yang bernama Vira.

Vira terlahir cacat, karena waktu itu kandungan ibu ku tidak sehat. Sewaktu kami masih kecil, ketika ulang tahun ku yang ke-10, ayah memberiku sebuah kado yang berisi sebuah kalung liontin. Ayah memakaikannya sendiri ke leher ku dan ayah meminta agar aku menjaga kalung ini sebaik-baiknya. Tanpa sepengetahuan ku dan ayah, ternyata Vira melihat ayah memakaikan kalung itu ke leher ku, dan Vira pun merasa iri.

“Ayah pilih kasih...!  Kenapa cuman Raysa yang dikasih kado, sementara aku tidak”.

Setelah beberapa hari Vira melihat kalung pemberian itu melingkar rapi di leher ku. Vira iri dan ingin sekali kalung itu menjadi milik nya, sehingga ia merebut kalung itu dari leherku, dan memaksa ku agar memberikan kalung itu kepada nya. Saat kejadian itu, mama mendendengar ada keributan di kamar ku, mama pun langsung menuju kamar.

“Ada apa ini ?, kenapa ribut-ribut...?” tanya mama.

“ini ma...Si Raysa nggak mau ngasih kalung itu pada ku” balas Vira manja.

Karena mama lebih sayang ke Vira, mama memaksa agar aku memberikan kalung itu kepada Vira, namun aku tetap tidak mau. Dengan terpaksa mama mengancamku dengan gunting , agar aku mau memberikan kalung itu kepada Vira, namun yang  terjadi  gunting yang  dipegang  oleh mama melesat ke mata Vira.

“Maafkan mama sayang...mama nggak sengaja... maafkan mama” dengan wajah yang pucat. “Raysa...!!!  Ini semua gara-gara kamu ...awas kalau terjadi apa apa dengan Vira”  bentak mama.

Aku bingung, nggak tau harus berbuat apa. “Kenapa nggak aku kasih aja kaling ini, pasti nggak bakalan begini” cetus dalam hati. Sementara mama terus memarah-marahi aku.

Kemudian Vira pun dibawa ke rumah sakit. “Matanya harus segera dioperasi. Kalau tidak, maka akan mengganggu pada anggota tubuhnya yang lain” kata Dokter.

“Operasi saja Dok... saya tidak mau terjadi apa-apa dengan anak saya” sahut mama.

“Mata anak Ibuk bagian kiri, buta” jawab dokter.

Mama tidak menerima semua kenyataan itu. Mama terus memarah-marahi aku, tanpa kenal malu dilihat orang banyak yang berlalu-lalang di rumah sakit tersebut.

“Raysa... kalau Vira buta, kamu juga harus buta” kecam mama. Mendengar semua itu, air mata yang terbendung dari tadi akhirnya menetes juga. Ayah sungguh tidak tahan melihat perlakuan mama terhadap ku.

“Jangan salahkan Raysa terus...! Itu semua merupakan takdir dari Allah, kita harus menerima dan menjalaninya dengan sabar. Saya tidak mau Raysa juga ikut buta...” ujar ayah.  Namun mama tidak mau mendengar itu semua.

***

Sesampai di rumah, mama terus mengancamku. Kalau tidak mau mendonorkan mataku untuk Vira, aku  akan diusir dari rumah dan dilaporkan ke polisi karena telah mencelakakan kakakku sendiri.

Akhirnya aku terpaksa mendonorkan mataku untuk Vira meski tanpa sepengetahuan ayah. Mama langsung memberikan surat persetujuan kepadaku dan harus ditanda tangani. Setelah surat itu selesai, aku langsung dibawa ke rumah sakit.

“Jika ini yang terbaik ya Allah, aku rela. Asalkan mamaku bahagia...aku pasrah ya Allah” gumamku dalam hati.

***

“kamu sudah siap ?” kata dokter.

“Siap dok”

“Ayo, ini sudah waktunya... Mari masuk ruangan” dokter membimbingku masuk.

Kurang lebih 2 jam berlalu. Operasi berjalan dengan lancar, mata kiriku berhasil dipindahkan kemata Vira. Sekarang Vira sudah bisa melihat kembali, walaupun aku harus buta sebelah mata untuk selamanya.

Beberapa hari kemudian, masih dalam keadan belum sehat, aku disuruh oleh mama ke supermarket membeli roti untuk sarapan pagi besok.

Sepulang dari membeli roti, aku langsung pulang. Dalam perjalanan, kepalaku terasa amat pusing, namun aku paksakan juga berjalan. Tiba-tiba di jalan, mobil truk melaju sangat kencang menabrakku......bersambung.

Tidak ada komentar untuk "CERBUNG - AKU TAK PERNAH DILAHIRKAN (PART I)"